Sahabat yang dirahmati Allah, kita mungkin pernah mendengar ketika masih kecil dulu ustadz kita bicara, bahwa ketika di akherat nanti, setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan naungan dari Allah SWT, karena matahari berada tepat diatas kita, neraka dan surga di hadapan kita. Rasulullah SAW dalam sabdanya menerangkan, setidaknya ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah SWT, pada hari tidak ada lagi naungan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

1.    Pemimpin yang adil.

2.    Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya.

3.    Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.

4.    Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah. 

5.    Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. 

6.    Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. 

7.    Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”  (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Sejatinya, setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin keluarga, atau bahkan pemimpin untuk dirinya sendiri, namun yang tersulit adalah bagaimana menjadikan dirinya adil, adil untuk dirinya, maupun untuk oranglain, keadilan itulah yang akan menjadikan dirinya mulia, kerna apapun yang diperbuatnya, tidak pernah terlepas dari hukum yang telah digariskan Allah SWT, sehingga dia tidak dzalim, minimal terhadap dirinya sendiri.

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS Ali Imran: 3)

Dalam hadis Qudsi-Nya Allah berfirman, “Sesungguhnya aku telah mangharamkan zalim itu atas diri-Ku, dan telah Aku jadikan zalim di antara kalian itu sesuatu yang diharamkan, karena janganlah kalian saling berlaku zalim.”

Seseorang yang menyadari bahwa dirinya adalah pemimpin, maka dia akan selalu selalu memperbaiki dirinya, merubahnya dari buruk menjadi baik, dari sifat yang tercela menuju sifat yang terpuji, dari melakukan hal yang sia-sia, menjadi hal yang bermanfaat. Tidak ada satu waktupun yang terlewati kecuali dia selalu berbuat baik. Sehingga dia bisa menahan nafsu amarahnya dari perbuatan buruk, menjaga jiwanya untuk selalu suci, menjaga ibadahnya agar murni hanya mencari keridhoan Allah dan kecintaan Rasulullah SAW.

Terlebih lagi apabila dia adalah pemimpin perusahaan,  pemimpin lembaga, pemimpin daerah, dan pemimpin Negara, di pundak mereka terdapat banyak pengharapan dan hidup orang banyak, ketika dia tidak dzalim terhadap Allah, Dzalim terhadap diri sendiri, Dzalim terhadap sesama manusia dan Dzalim terhadap MakhlukNya, maka, doa-doa yang dipanjatkan pun akan selalu dikabulkan oleh Allah, karena, sejatinya, dia berdoa bukan hanya untuk dirinya, namun juga untuk kesejahteraan orang banyak.

“Tiga orang yang doanya tidak ditolak: orang yang puasa saat berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang mazlum (teraniaya).” (HR. Tirmidzi)

*bersambung