Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: … Dan seorang lelaki yang berdzikir/mengingat Allāh dalam keadaan sendirian lalu mengalirlah air matanya.…”

Jamaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’alaa, Dia memerintahkan kita hamba-hambaNya dalam banyak ayatNya untuk selalu berdzikir kepadaNya, berfikir betapa hebatnya penciptaanNya di bumi dan di langit, mengingat keagunganNya, dan mengingat betapa rendahnya diri kita di hadapanNya, betapa tak ada apa-apanya diri kita dibandingkan keagunganNya.

Berdzikir kepadaNya menjadikan hati kita hidup, jiwa kita bersemangat, bersemangat untuk melakukan hal terbaik dalam hidup, melakukan hal bermanfaat untuk diri kita dan untuk keluarga, juga orang banyak, tak tersebit sedikitpun untuk melakukan hal tercela, karena dzikir tersebut akan selalu mengingatkan kita, kemana kita menuju dalam hidup ini, dan kemana kita akan kembali, dzikir juga akan menjadikan diri kita memiliki visi misi yang jelas dan baik, tidak asal jalan, tidak asal berbuat.

Dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah saw bersabda : “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dengan orang yang sudah mati” (HR. Bukhari).

Menangis terkadang dapat menjadi obat untuk banyak penyakit, akan tetapi dengan syarat bahwa tangisan tersebut disebabkan Dzikir karena rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan itulah yang dikabarkan Al-Quran dengan firman-Nya ketika menceritakan tentang orang-orang beriman yang khusyu’ yang hati mereka merasakan pengaruh dari firman Allah, apa reaksi mereka? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang mereka:
“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Israa’: 109)
Menangis disebabkan rasa takut kepada Allah menambah kekhusyu’an dan ketakutan kepada Allah pada diri seorang yang beriman, dan membuatnya lupa terhadap kesedihan, dan kekhawatirannya, mengapa? Karena segala maksiat yang telah melalaikan mereka, hingga hidup tak tentu arah, serta mengingat kekuasaan dan kebesaran Sang Pencipta, sehingga, apapun masalah yang dihadapi, kesulitan yang menghadang, dan segala keraguan atas ketidaksiapan untuk melakukan sesuatu serta segala kemustahilan yang telah menguasai fikirannya akan hilang dengan sendirinya. Karena keyakinan bahwa kuasa Allah jauh lebih besar atas segalanya, keyakinan bahwa dosa-dosa nya yang menggunung, tidak melebihi keagungan dan kasih sayang Allah kepadanya.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (Azzumar: 53-54)

Sebelum waktu berhenti, sebelum mata kita tertutup untuk selama-lamanya, sudi kiranya kita duduk bersimpuh di hadapan Allah SWT, memohon ampunan, pertolongan, pengharapan dariNya, hingga mudah-mudah2an Allah memberikan kita naungannya di akherat kelak, dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah SWT, Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.