Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dua orang yang saling mencintai karena Allāh; mereka bertemu dan berpisah karena-Nya. …”

Berbicara tentang cinta, adalah berbicara tentang rasa suka, bahagia dan kerinduan juga pengharapan, sejatinya cinta bersifat menguatkan, bukan melemahkan, ia menyuburkan, bukan menghancurkan, ia menyembuhkan, bukan menyakiti, sehingga cinta haruslah membuat sang pencinta menjadi orang yang lebih bahagia, bersemangat dan produktif.

Menyukai seseorang adalah fitrah dari Allah. Bersyukurlah orang yang telah diberikan rasa cinta. Namun, kadang seringkali perasaan kita dibutakan. Kita lupa kepada siapa, hati , jiwa ini akan kembali. Dan kepada siapa kita harus mencinta, Hanya kepada Yang Maha Kuasalah sepenuhnya kita berikan.

Landasan cinta seorang muslim haruslah jelas, tidak hanya sekedar cinta mencintai tanpa landasan, terlebih lagi mencintai karena hawa nafsu, cinta seorang muslim haruslah berlandaskan cinta karena Allah dan Rasul-Nya, cinta karena syariat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih).

Ketika hubungan manusia didasari dengan kecintaannya kepada Rabbnya, mustahil cinta itu tidak mendatangkan manfaat, dia akan tumbuh menjadi arti cinta yang sebenarnya, tidak menyakiti, tidak menghancurkan, penuh manfaat untk keduanya, dan juga manfaat untuk oranglain di sekitarnya, karena sejatinya, mereka menjalankan segala aktivitas dengan tujuan mencari ridha Allah SWT dan kecintaan kepada Rasulullah SAW, tak ada syariat yang dilanggarnya, dan tidak ada larangannya yang dilakukannya. Menjaga diri dan kehormatan karena Allah dan menghindari maksiat karena Allah.

Rasulullah SAW pun menceritakan dari Rabb-nya yang berfirman, “Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku. Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.” Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya. (HR Ahmad).

Namun, ketika seseorang menyatakan cinta, namun tetap dalam kemaksiatan, tidak menjaga kehormatan dirinya, maka sejatinya dia telah dibutakan hawa nafsu, bukan lagi cinta yang berbicara.

“Teman-teman akrab (yang berkasih sayang) pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS; Azzukhruf: 67)

Semua itu, tak lebih, karena saya ingin menyampaikan betapa pentingnya cinta dikembalikan kepada fitrahnya yang suci, yaitu cinta yang dibangun atas landasan iman dan takwa. Saling mencintai, saling berbagi, saling mengasihi, saling mengingatkan, saling menghormati, saling menegur, bertemu karena Allah, dan berpisah pun karena Allah SWT. Wallahu a’lam