Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid…”

Said bin Al Mussayib meriwayatkan, “Siapapun yang sedang duduk di dalam rumah Allah SWT, ia sedang duduk bersama Allah. Ia seharusnya hanya melibatkan dirinya dalam kebaikan dan pembicaraan yang baik.” (Qurtubi)

Masjid berasal dari kata “sajada” yang berarti tempat sujud, maka sejatinya, setiap seseorang memasuki masjid, hendaklah dia berniat bersujud kepada Allah, aktivitas ibadah, keilmuan, sosial dan hal apapun, maka hendaklah dengan tujuan sujud dan tunduk kepada Allah SWT. Maka mencintai masjid, sejatinya adalah mencintai Allah SWT dan RasulNya, karena semakin seseorang mendekatkan diri dengan masjid, maka dia semakin dekat dengan Allah, semakin hati seseorang terpaut dengan masjid, maka hatinya akan selalu terpaut dengan Allah.

 “Yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk (QS; Attaubah: 18)

Dari Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapapun yang mencintai Allah SWT, harus mencintai aku. Siapapun yang mencintai aku harus mencintai Sahabat-Sahabatku. Siapapun yang mencintai Sahabat-Sahabatku, harus mencintai Al Qur’an. Siapapun mencintai Al Qur’an, harus mencintai masjid. Masjid adalah rumah Allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk memuliakannya. Allah SWT telah memberkati tempat ini dan orang-orang yang menempatinya untuk urusan yang benar. Allah SWT melindungi masjid-masjid ini dan penghuninya. Para penghuni ini mendirikan shalat di dalam masjid-masjid ini. Allah SWT memenuhi kebutuhan mereka dan mengabulkan doa-doa mereka. Allah SWT melindungi harta-harta mereka selagi mereka berada di dalam masjid.” (Qurtubi)

Sejarah telah mencatat bahwa kegiatan pertama yang dilakukan Nabi SAW setibanya di Madinah adalah mendirikan masjid. Fungsi masjid kala itu tidak hanya untuk ibadah ritual, melainkan juga untuk aktivitas keilmuan, sosial, dan lain sebagainya. Karenanya tidak heran jika masjid mengeluarkan banyak cendekiawan yang alim dan shaleh.

Abu Hurrairah RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Berdo’a di dalam satu masjid adalah lebih baik daripada berdo’a di rumah atau di tempat lain.” Sesungguhnya, ketika seseorang berangkat dari rumahnya menuju masjid dengan berwudhu dengan niat hanya untuk berdo’a disana, maka tingkatannya diangkat oleh Allah SWT lebih tinggi dan semakin tinggi seiring dengan setiap langkahnya sampai ia tiba di masjid. Ketika ia sedang menunggu di dalam masjid berdo’a berjamaah, ia menerima pahala dari Allah SWT seolah-olah ia sedang mendirikan shalat. Malaikat akan terus berdo’a untuk dia selama menunggu ini asalkan ia tetap menjaga wudhunya dan tidak merugikan siapapun. Para Malaikat meminta kepada Allah, ‘Ya Allah SWT limpahkanlah RahmatMu kepada orang ini dan ampunilah dosanya’” (HR. Muslim)

Tidak heran ketika Rasulullah SAW menjadikan orang-orang yang hatinya terpaut dengan masjid dengan niat tunduk dan sujud kepada Allah, termasuk orang-orang yang akan selalu mendapatkan naungan dari Allah SWT, di dunia ini dan terlebih di akherat kelak. Wallahu a’lam