Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”

Jamaah yang dirahmati Allah, dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW bersabda, bahwa ada dua nikmat yang seringkali dilupakan oleh kita sebagai manusia, yakni kesehatan dan waktu luang, ya, kesehatan seringkali kita lupakan, kesehatan layaknya sebuah mahkota indah yang yang seringkali tidak dilihat, kecuali oleh orang-orang yang sedang sakit. Begitu jua waktu luang, seringkali kita lupakan, dan baru tersadar ketika waktu kita sudah tak lagi banyak, termasuk waktu dimana kita masih muda, ada banyak sekali hal baik yang seringkali terlupakan ketika masih muda.

Sepanjang peradaban manusia, pemuda adalah pelopor. Berbagai perubahan terjadi di setiap bangsa, selalu digerakkan oleh pemuda. Di balik setiap transformasi sosial, juga ada anak muda. Ibarat sang surya, maka pemuda bagaikan sinar matahari yang berada pada tengah hari dengan terik panas yang menyengat. Yang menentukan fase kehidupan manusia sejak di janin, balita, kanak-kanak, dewasa dan masa tua adalah usia murahiq – masa muda – (antara 30-40), meminjam istilah ahli kepribadian. Berbagai bakat, potensi, kecenderungan, baik mengarah kepada kebaikan maupun kepada kejahatan memiliki dorongan yang sama kuatnya ketika pada masa muda. Itulah sebabnya, kegagalan dan keberhasilan seseorang, kematangan kepribadian manusia pada  masa tua ditentukan oleh masa mudanya.

Dalam al Quran pemuda menggunakan istilah ‘fatan’. Sebagaimana firman Allah SWT:

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (Al Anbiya : 60).

Dalam Islam, dikenal bapak yang mengenalkan tauhid, dialah Ibrahim. Ia menegakkan nilai-nilai tauhid di tengah dominasi dan hegemoni paham paganisme, seorang diri. Bahkan bapaknya sendiri melawannya. Kalau bukan kesabaran dan keyakinan yang terpatri di dalam hati, mustahil misi suci ini bisa diwujudkan.

Begitupun dengan kisah Ashabul kahfi Al Kahfi (18) ayat 10 dan 13.

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa : Ya Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-MU dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). (Al Kahfi : 10)

Rasulullah SAW sangat memperhatikan masa-masa ini, sehingga salahsatu penerima naungan Allah pada hari akherat, adalah pemuda, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya.

Sifat-sifat dasar ibadah itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam. Parameternya adalah:

Menjadikan seluruh perbuatannya adalah pengabdian kepada Allah SWT. (QS. 6 : 162). berserah diri secara total (kafah) kepada Allah (QS. 2 : 128). Memberikan pengabdian kepada kedua orangtuanya sebagai salah satu jalan untuk mendapatkan keridhaan Allah. (QS. 31: 14). Berani berjihad dengan harta, tenaga, fikiran dan jiwa demi tegaknya kalimatullah. (QS. 9 : 41). Selalu menegakkan shalat, berakhlak dalam da’wah, serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah (QS. 31: 17). Selalu mempelajari banyak hal, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir (QS. 39 : 91). Memiliki perkataan dan tingkah laku lemah lembut, teguh pendiriannya dan tidak takut akan kehidupan dan tidak bersedih. (QS. 46 : 13-14).