Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (al-Baqarah: 186)

Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang masyhur,  ketika Umar bin Khattab sedang menjabat sebagai khalifah, saat itu Gubernur Mesir, Amr bin Ash, mengadu tentang musim paceklik hebat dan berkepanjangan yang menimpa kaum Muslimin di negeri itu. Sungai Nil yang menjadi sumber penghidupan rakyat banyak tak lagi mengalirkan air.

Umar lalu memanggil Amr bin Ash untuk datang ke Madinah. Sang Khalifah lalu berkata, “Wahai Amr bin Ash bawalah suratku ini lalu lemparkanlah ia ke Sungai Nil!” Isi surat itu berupa doa Sang Khalifah.

Dalam surat itu, Umar yang dikenal sebagai pemimpin yang adil memanjatkan doa, “Wahai sungai, engkau adalah makhluk Allah yang diciptakan oleh-Nya untuk menolong hamba-Nya yang lain, jika engkau adalah makhluk ciptaan Allah bantulah hamba-hamba Allah dan mengalirlah engkau!” Sejak saat itu Sungai Nil tidak pernah lagi mengalami kekeringan.

Tugas pemimpin sangatlah berat, karena harus memelihara mandat yang telah diberikan rakyat. Oleh itu, Allah SWT memberi penghormatan besar kepada pemimpin yang adil dengan meletakkan mereka sebagai golongan pertama dari tiga orang yang doanya diterima oleh Allah SWT tanpa hijab dan golongan pertama dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah SWT di Padang Mahsyar di akhirat kelak.

Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala jenis amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya), dan apabila kamu menetapkan hukum antara manusia, (Allah menyuruh) kamu menetapkan hukum dengan adil. Sesungguhnya Allah dengan (suruhan-Nya) itu memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah sentiasa mendengar, lagi sentiasa melihat.” Surah An-Nisa, ayat 58

Seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya, selalu berusaha untuk segala kepentingan rakyatnya, pemimpin yang berfikir untuk kemajuan dan kebahagiaan rakyatnya, segala hal yang dilakukan tidaklah untuk kepentingannya sendiri melainkan untuk maslahat ummat, maka dia adalah orang-orang yang dicintai Allah SWT dan Rasulullah SAW, karena hidupnya adalah untuk kemaslahatan orang banyak, di pundaknya, ada amanah berat yang harus dia emban, sedikit saja dia menyakiti hati rakyatnya, maka disanalah dia telah berbuat dzalim.

Hakikatnya, setiap manusia adalah pemimpin, minimal adalah pemimpin keluarga, dan pemimpin untuk dirinya sendiri, dari amarah, nafsu, hati, jasmani dan ruhani, maka, hendaknya tiap diri menjadikan dirinya berbuat adil, seadil-adilnya, untuk dirinya, keluarganya, masyarakatnya, saudaranya dan orang-orang sekitarnya, dan menjahui perbuatan dzalim atas mereka, sehingga, Allah pun akan berkenan mengabulkan segala hajat dan doa-doa kita, aamiin. Wallahu a’lam bisshowaab

Dalam hadis Qudsi-Nya Allah berfirman, “Sesungguhnya aku telah mangharamkan zalim itu atas diri-Ku, dan telah Aku jadikan zalim di antara kalian itu sesuatu yang diharamkan, karena janganlah kalian saling berlaku zalim.”