Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(Annisa: 103)

Suatu hari ada seseorang yang sudah janjian dengan kita untuk bertemu, rencananya, dia akan datang ke rumah kita untuk memberikan bantuan dari proposal yang pernah kita kirimkan. Setibanya dia di rumah kita, dia bertemu dengan anak kita dan mengutarakan maksudnya, anak kita pun menyampaikan hal itu kepada kita, namun kita meminta sang anak agar memberitahukan tamu tersebut untuk menunggu barang satu dua jam, setelah satu jam menunggu, kemudian sang tamu menanyakan kembali kepada sang anak, apakah kita mau menemui dia? Sang anak kembali datang dan kita jawab coba tunggu sebentar lagi. Saya sangat yakin sekali, sang tamu kemudian pasti akan berlalu pergi, bantuan yang sudah dia bawa urung dia berikan kepada kita, karena kita sendiri enggan menemuinya.

Rasanya, begitulah kita di hadapan Allah SWT, ketika sang muadzin mengumandangkan adzan sebagai tanda “waktu janji” kita dengan Allah, kita malah cuek, kadang meminta Allah SWT untuk menunggu kita, padahal banyak sekali keinginan, harapan, cita-cita dan hajat yang kita tuju, bahkan banyak sekali masalah, keruwetan, kesulitan hidup yang kita hadapi, namun kita enggan menemuiNya barang sebentar, bahkan kita sering melewati “waktu janji” kita begitu saja, tanpa rasa bersalah.

Ya begitulah, waktu yang dijanjikan, “Kitaabam mauquutaa” kita biarkan pergi, kita lewati dengan tanpa hasil dan tanpa rasa bersalah, sehingga, segala harapan, cita-cita hanyalah harapan tanpa bantuan Allah SWT. Masalah, hanyalah menjadi masalah ketika kita tidak menghadirkan Allah dalam kehidupan kita, sehingga jadilah kita orang-orang yang lelah, capek, pusing, bingung, hingga tidak tahu apa yang kita tuju, mau kemana, mau ngapain kita dengan masalah kita.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., berkata: Saya pernah mendengar Rasululullah bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat dari amalnya adalah  shalatnya. Jika shalatnya baik, ia  beruntung dan sukses. Dan jika rusak, maka akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, maka Allah akan berkata: “lihatlah apakah hambaku memiliki shalat sunnah, supaya bisa dipakai untuk menyempurnakan kekurangannya pada shalat wajibnya, kemudian setelah, yang akan dihisab adalah amal perbuatan yang lainnya.” (HR. Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad)

Beruntunglah orang-orang yang selalu mengedepankan Allah dalam segala hal, terlebih dalam hal sholat lima waktu yang telah ditentukan, insya Allah kesuksesan hidup di dunia dan akherat akan diraih, cita-cita akan tercapai, segala hajat dan keinginan akan terpenuhi, kerena dia bekerja bersama Allah, dia berjalan bersama Allah, dia menghadirkan Allah dalam cita-citanya, tujuan hidupnya pun jelas, akan kemana dia menuju, sehingga tidak ada larangan yang dilakukan, dan tidak ada ketaatan yang dia abaikan.

Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa, dan selalu mendirikan shalat tepat pada waktunya, aamiin.