Tag

, ,

Suatu ketika, anak Umar Bin Khattab, Aamirul mu’minin kembali pulang dari sekolahnya sambil menghitung tambalan-tambalan yang melekat dibajunya yang sudah usang dan jelek. Dengan rasa kasihan umar sang Amirul mu’minin sebagai ayahnya mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya minta agar beliau diberi pinjaman uang sebanyak 4 dirham, dengan jaminan gajinya bulan depan supaya dipotong. Kemudian bendaharawan itu mengirim surat balasan kepada umar, yang isinya: “wahai umar adakah engkau telah dapat memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan? Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi hutangmu”? Membaca surat bendaharawan itu, maka seketika itu juga umar tersungkur menangis, lalu beliau menasehati anaknya dan berkata : “Wahai anaku, berangkatlah ke sekolah dengan bajumu itu sebagaimana biasanya, karena sungguh aku tidak dapat memperhatikan umurku walaupun untuk satu jam”.

Rasulullah Saw bersabda:

 

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ » . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

(رواه البخاري)

 “jadilah kamu di muka bumi ini seakan-akan seorang asing atau orang yang menyeberang, dan kemudian Ibnu Umar berkata: apabila engkau sedang di waktu sore, jangan menunggu-nunggu pagi (untuk berbuat kebaikan), dan apabila berada di pagi hari, jangan pula menunggu sore hari, dan ambillah (waktu untuk berbuat) dari sehatmu untuk (sebelum) sakitmu dan dari hidupmu untuk matimu (HR. Bukhari)

 

Sahabat yang dirahmati Allah, itulah hidup, itulah umur, tak ada yang mengetahuinya selain Allah SWT. rasanya baru kemarin kita melaksanakan ibadah qurban, bertakbir mengagungkan asma Allah dan bersama-sama shalat idul adha, kini kita sudah tiba pada bulan Muharram, bulan yang dirahmati oleh Allah SWT, bulan dimana Rasulullah SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah yang waktu itu bernama Yatsrib. Satu bulan telah lewat, dan sebagian kita ada yang mengisi hari-hari yang telah dilalui dengan berbuat baik, ada juga yang mungkin dengan maksiat, atau bahkan tidak diisi apa-apa, hidupnya terasa hampa, tanpa manfaat di dalamnya, bahkan membuat dirinya bosan dan lelah.

 

Hidup kita bagaikan sebuah buku, ada banyak lembaran di dalamnya, judul bukunya adalah nama kita, halaman pertama adalah tanggal dimana kita dilahirkan, dan halaman terakhir adalah tanggal dimana kita nanti akan wafat, dan lembaran di dalamnya adalah kisah hidup kita. Apapun yang kita tulis, itulah kisah hidup kita, ada sebagian yang menulis bukunya dengan kebaikan, manfaat, keseriusan dan penuh perjuangan hidup, sesulit apapun. Namun, ada pula yang menulisnya dengan kegalauan, kesedihan, bahkan dipenuhi dengan maksiat dan dosa. Namun, seberapa jelekpun tulisan kita, Allah selalu memberikan lembaran baru putih bersih untuk kita isi, agar nantinya, ketika tamat tulisan kita, kita bangga dengan buku yang telah kita tulis, bahkan orang lainpun senang membaca buku kehidupan kita.

 

Lihatlah Allah SWT berfirman: “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu” (QS: al-Isra: 14)

 

Inilah buku yang telah kita tulis sendiri dengan penuh kejujuran, tanpa pernah kita tambah-tambahkan atau kita tulis dengan rangkaian kata yang indah.

Inilah buku yang nanti akan diserahkan Allah kepada kita, pada hari dimana tidak bisa lagi lisan kita berbohong, saatnya tangan berbicara tentang apa yang telah diperbuatnya, mata berbicara tentang apa yang dilihatnya, kaki berbicara tentang kemana dia melangkah, telinga berbicara tentang apa yang dia dengar. Pada saat itu, rasanya Allah tidak perlu menghisab kita satu persatu, cukup Dia berikan buku kita, kemudian kita menghitung, satu demi satu, mana kesalahan yang telah kita perbuat dan mana kebaikan yang telah kita lakukan, lebih banyak ibadahkah, atau maksiatkah, lebih banyak kejujuran ataukah kebohongan, bahkan,lebih banyak perjuangan ataukah berkeluh kesah.

 

Kawan, inilah Muharram, Tahun baru kita, Umar bin Khattab memulai tahun baru Islam bukan pada hari lahir Nabi kita Muhammad SAW, atau bukan pada saat Muhammad mendapat wahyu, namun, Umar ra memulai tahun baru Islam pada saat Nabiyullah dan sahabat Abu Bakar ra berhijrah dari kota Mekkah ke Madinah. Karena pada saat itulah kaum muslimin berada pada saat-saat sangat menyedihkan, Umar merasakan saat dimana kaum muslimin ditindas, rumah dibakar, harta benda dirampas, bahkan nyawa kaum muslimin sudah tidak berharga bagi kafir quraisy ketika itu, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW diboikot selama dua tahun, tidak ada pedagang yang mau bertransaksi dengannya, bahkan hingga sembako, makanan, minuman, beliau hanya memakan sisa dari makanan yang ada, dan ketika sisa makanan itu telah habis, beliau hanya memakan daun-daun kering di belakang rumah beliau.

Maka Allah SWT memerintahkan beliau dan seluruh kaum muslimin untuk berhijrah, berat, ya sangat berat memang meninggalkan apa yang selama ini dijalankan, meninggalkan rumah, kota dimana kita dilahirkan, namun, inilah perintah Allah, tak ada yang sia-sia sesuatu yang diperintahkan olehNya, dan ternyata, hijrah itulah yang merubah semua, ketakutan, kesedihan, ketidak ramahan dan ketertindasan berubah menjadi kebahagiaan, Rasulullah SAW menatap masa depan dengan penuh keoptimisan, optimis bahwa suatu saat kaum muslimin pasti bahagia, optimis bahwa Islam pasti akan gemilang, dan optimis bahwa setelah hijrah, kaum muslimin dapat menguasai dunia.

 

Sahabat, pada moment tahun baru Islam inilah, Umar bin Khattab ingin mengingatkan kita, agar hidup kita harus dijalankan dengan penuh optimis, kalau yang kemarin bersedih, berhijrahlah untuk mencari kebahagiaan, cari sebab yang mengakibatkan kita bersedih, kemudian perbaikilah, buat yang kemarin senang mengisi kehidupan dengan maksiat, maka berhijrahlah untuk mendekati kebaikan dan amal sholeh, buat yang kemarin hidup terasa tidak ada manfaat, maka berhijrahlah untuk mengisi hari-hari kita dengan manfaat, untuk kita pribadi, keluarga, tetangga masyarakat, bangsa, agama, dunia dan akhirat. Insya Allah, ketika kita berani berhijrah dari yang buruk menuju yang baik, maka, kesedihan akan berbuah kebahagiaan, kesulitan akan berbalik menjadi kemudahan, kemaksiatan dan dosa akan berubah menjadi ketaatan dan amal sholeh, menulis kitab kita yang tadinya penuh oretan tak menentu, menjadi tulisan penuh makna yang diisi dengan tinta emas dengan ketakwaan dan mengedepankan ridha Allah dalam setiap langkah,  sehingga masa depan dapat diraih dengan baik, bahagia, dan bermanfaat untuk Allah, Rasulullah dan seluruh makhluk bumi hingga batas akhir halaman kehidupan kita.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya kemarin untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung (QS; Al-Hasyr: 18-20)

 

Semoga Allah SWT memberikan keberkahan untuk hidup dan umur kita di dunia, hingga ketika kita di akherat nanti, Allah akan memberikan buku kita dengan tersenyum dan kitapun membacanya dengan penuh kebahagiaan, aamiin ya Rabb. Wallahu a’lam Bisshowaab