Sebagai orangtua, kita pasti ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga dan anak-anak kita, bagaimanapun keadaan kita, tak bisa dipungkiri, mereka adalah orang-orang terdekat kita, benteng untuk kita dalam menghadapi kehidupan ini dan kitapun menjadi benteng untuk mereka.

Seorang ayah, ketika anaknya merengek ingin dibelikan sepeda motor, dalam hati kecil, tentu saja ingin sekali memberikannya, pada saat kita diberikan keluasan rezeki, kitapun memberikan motor idaman sang anak, dengan sedikit petuah, bahwa, setelah diberi motor, belajar harus lebih rajin, makin patuh sama orangtua, makin berkhidmat sama ayah bunda, dengan motor barunya dia bisa membantu keluarga dan kawan-kawan, jangan pernah bolos kuliah, jangan ngebut-ngebutan, dan lain sebagainya.

Namun, pada saatnya tiba, ketika keinginan sang anak terkabul, ketika motor itu sudah ada di hadapannya, dia ternyata makin bandel, perintah orangtua seringkali diacuhkan, sering pulang malam dengan alasan jalan-jalan dengan kawan2, bahkan sering kebut-kebutan.

Pada saat inilah kita sebagai orangtua merasa sangat sedih, betapa harapan kita agar sang anak makin berprestasi pupus sudah, betapa rasanya, tidak ada manfaat dari usaha kita memberikannya motor, bahkan dengan sedihnya kita mengatakan dalam hati kecil, betapa menyesalnya memberikan motor pada saat yang tidak tepat. dan pada saat yang tidak diduga, sang anak kecelakaan dengan motornya, masih sangat beruntung sang anak hanya mengalami sedikit lecet, atau bahkan hanya patah tulang, tidak sampai meninggal. kita pun sebagai orangtua terus mengurus sang anak, dari biaya rumah sakit, kepolisian , hingga bahkan berbuat apapun agar sang anak sehat kembali.

Ketika sang anak telah sehat, dia pun datang kepada kita, satu permintaan dari sang anak, “ayah, belikan aku motor yang baru” sebagai orangtua, saya ingin bertanya kepada kawan-kawan semua, apakah kita akan membelikannya motor baru?

Saya rasa, tidak akan. keinginan terbesar kita adalah, sang anak hadir dihadapan kita dengan meminta maaf karena telah mengabaikan petuah orangtua, hadir dengan pribadi yang baru, hebat, rajin dan penuh prestasi. pada saatnya, ketika semua itu telah tercipta pada diri sang anak, tanpa dia meminta pun, kita akan memberikannya motor baru.

Kawan, percayalah, begitulah terkadang kita di hadapan Allah, seringkali ketika usaha kita bangkrut, kita bersedih dan menyalahkan Allah, dan tanpa malu-malu, kita meminta usaha dan bisnis kita berjaya lagi, tanpa meminta maaf, padahal, ketika usaha itu sebelumnya telah diberikan Allah kepada kita, seringkali kita melanggar perintahNya, seringkali kita mengabaikanNya, bukankah tiap panggilan adzanNya kita jawab dengan acuh, bahkan ketika kita makanpun, kita meminta Allah untuk menunggu sejenak hingga makan kita selesai, bahkan seringkali ketika Allah memanggil, kita tanpa malu berbuat dosa. Namun kawan, percayalah, Allah menunggu kita hadir, menunggu kita untuk datang kehadapanNya, Dia merindukan kita datang kembali, bagaikan orangtua yang merindukan anaknya datang setelah sekian lama pergi mengacuhkannya.

Ya Rabb, mungkin kami telah lalai, mungkin kami lupa, bahwa semua yang ada pada diri kami adalah pemberianMu, kumohonkan maaf atas segala dosa, kupohonkan harapan agar kami bisa membersihkan diri, hingga pada saatnya, kami menjadi orang-orang terdekatMu, menjadi pribadi yang membuatMu bangga atas segala apa yang kami perbuat dengan segala pemberianMu. jadikan kami manusia-manusia yang bermanfaat, aaamiiin.