Siang ini seorang sahabat baik saya mengatakan bahwa dia sangat merindukan suaminya yang saat ini bekerja di luar negeri,ingin sekali menatap wajahnya, ingin melihatnya ada di hadapannya, mendengarkan kisah-kisahnya, kisah tentang para nabi, para sahabat yang sering kali diceritakan sang suami sebelum beranjak tidur, rindu akan pelukannya, rindu akan candanya, tertawanya, senyumnya, kata-katanya, suaranya, hingga kerinduan itu membuncah dan membuatnya tanpa sengaja meneteskan airmata. kawan, begitulah terkadang kita merindukan seseorang yang begitu dekat dengan kita, walaupun kerinduan itu akan terbalaskan di kemudian hari, karena pergi nya hanya untuk kembali, bukan selamanya.

lalu bagaimana ketika kita ditinggalkan orang-orang tercinta selamanya? bagaimana perasaan kita ketika ditinggalkan ayah, ibu, istri atau suami kita untuk menghadap Allah SWT? Saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk mengingat masa-masa dimana kita ditinggalkan oleh orang yang pernah kita sayangi dan kita kasihi dan mereka menyayangi kita. Kesedihan akan terus melanda, airmata sulit untuk kita bendung, bahkan terkadang merana, terlebih orang yang meninggalkan kita adalah orang yang selama ini mencari nafkah untuk kita. tumpuan dan penopang rumah tangga, hingga terkadang kita merasa, hidup ke depan pasti akan sangat sulit, bingung, gak tahu musti gimana dan lain sebagainya, hal- hal buruk yang sering membayangi benak kita. 

Kawan, pernahkah kita melihat, seorang anak berumur 6 tahun yang tidak memiliki ayah juga ibunda tercinta, tanpa warisan dan bingung kemana akan melangkah, sehingga, jangankan untuk sekolah, untuk makanpun dia sulit, Rasanya, tidak tega kita melihatnya, ingin sekali menjadikan mereka anak asuh kita, dan memberikannya nafkah bahkan pendidikan, namun kadang kita berfikir, apalah daya, untuk keluarga kita saja, kadang kita merasa masih kurang.

Itulah yang terjadi kepada Junjungan kita Muhammad SAW, beliau tidak pernah melihat ayahanda, hanya nama yang masih terkenang, beliau meninggal ketika sedang berdagang Ke Yatsrib, yang sekarang bernama Kota Madinah. Aminah, ibunda Rasulullah, mengalami kesedihan yang teramat sangat, terlebih ketika melahirkan sang buah hati, Muhammad, tanpa kehadiran suami disisinya. Kerinduan Aminah akan suami tercinta mengantarkannya pada perjalanan jauh ke Yatsrib untuk berziarah ke makam Abdullah. Disanalah Aminah menunjukkan, dimana ayahnya dikuburkan, dimana sang ayah dirawat ketika sakit, keluarga siapa yang membantu ayahanda, disanalah juga Aminah dengan sedih menceritakan kepada Muhammad kecil, betapa sang ayah seorang yang sangat baik, teguh pendirian, hebat, gagah dan pribadi yang tidak pernah menyerah. begitu cintanya Aminah kepada suami tercinta, sehingga bercerita begitu indahnya, membuat Muhammad terkesima dan benar-benar merindukan sosok ayahanda.

dalam perjalanan pulang, Ibunda Aminah menderita sakit demam, dan kemudian meninggal, dan dikuburkan di negeri Abwa, yang jauh dari kota Mekkah.

Kawan, baru saja muhammad kecil mengenal ayahanda, baru saja ibunda aminah menceritakan kehebatan ayahanda, dan baru saja kerinduan Muhammad akan kehadiran ayahanda di sisinya membuncah, dia harus ditinggal sang bunda tercinta, hingga akhirnya Muhammad kecil pulang ke Mekkah sendirian, hanya dengan ditemani oleh tetangga yang mengenalnya.

Kawan, pernahkah kita melihat seorang anak berumur 6 tahun, mengetuk pintu rumah kita, kemudian menawarkan diri untuk menggembala domba dan binatang ternak kita, hanya untuk sekedar menyambung hidup? kawan, itulah Muhammad, seorang anak yang pandai bersyukur, yang tidak hanya baik, namun jg begitu taat dan patuh, hingga, untuk hidupnya pun, Ia tidak ingin menjadi beban saudaranya. biarlah orangtua meninggalkannya, biarlah ayah tidak ada, biarlah ibunda tenang di keharibaanNya, biarlah sang kakek pergi, biarlah tidak memiliki harta, biarlah tidak ada kakak juga adik-adik, biarlah hidup sendirian sebatang kara, biarlah kesedihan itu disimpan dilubuk hatinya yang terdalam, tetapi hidup harus terus berlanjut tanpa kegelisahan.

Muhammad SAW, Umur 12 tahun sudah memulai belajar berbisnis, menjadi pedagang, dibimbing oleh sang paman tercinta Abu Thalib, hingga umur 18 tahun, beliau sudah menjalankan bisnisnya sendirian ke pelosok arab bahkan hingga ke luar negeri. Maka pada umur 25 tahun ketika sang saudagar kaya, Khadijah ingin mengenalnya lebih jauh, Muhammad pun menerimanya, bukan karena malu menolaknya, atau karena nafsu menerima seorang janda kaya, tetapi karena beliau memang telah siap dengan segalanya, beliau tidak minder, termasuk dalam hal materi.

Muhammad SAW, ketika meminang khadijah al-kubra, memberikan mahar 100 ekor unta hitam terbaik, dan unta hitam yang diberikan Muhammad tersebut adalah kendaraan paling mewah pada saat itu. ini menunjukkan bahwa Muhammad SAW adalah entrepreneur muda nan sukses, lihatlah harga kendaraan mewah saat ini kemudian kalikan 100, betapa hebat mahar yang telah diberikan Muhammad kepada istri tercinta, khadijah, atau, kalaupun tidak, lihatlah harga unta hitam terbaik, kemudian kalikan 100, minimal, mahar yang diberikan Muhammad saat itu, adalah 1,5 milyar. Suami yang baik, adalah yang bisa memberikan mahar terbaik untuk istrinya, dan istri yang baik, adalah yang bisa menerima dengan baik apapun yang diberikan dan tidak memberatkan suaminya. muda, cerdas, berprestasi, baik, sholeh, gagah, tampan, santun, sopan, jujur dan sekaligus milyarder, dan satu, bukan hasil warisan orang tua. Semoga kita bisa mengikuti Muhammad SAW, dalam segala hal, salahsatunya dalam mengais rizki, sehingga sukses di dunia, dan bahagia di akherat, tergantung bagaimana kita memandang hidup dan bagaimana kita mensyukuri waktu, umur, rizki dan keberadaan kita di kehidupan ini.

Selamat beraktifitas, selamat meraih ridha Allah dalam mencari rizki untuk keluarga dan orang-orang yang kita cintai. semoga kita bisa terus mengikuti jejak langkah Muhammad SAW, Sang Entrepreneur Sejati, aamiin