Dalam surat alhasyr ayat 18 dan 19 Allah SWT berpesan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ،وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.

Tidak ada kesadaran yang sia-sia, kecuali kesadaran yang terbangun tatkala alam sudah berganti wujud. 

Kematian adalah satu hal yang dengan pasti dialami oleh manusia. Siapapun ia, apakah ia kaya atau miskin, tua atau muda, dewasa atau kanak-kanak, manusia terhormat atau terhina [menurut kacamata manusia], semuanya pasti akan mati.

Tetapi sebelum ‘kematian besar’ datang kepada kita, ada juga ‘kematian-kematian kecil’. Yaitu yang kita kenal dengan ketersudutan, keterpurukan, jatuhnya kehidupan seorang manusia dan hal-hal lainnya yang sifatnya sebagai sebuah perubahan yang jelek. Disebut kematian kecil sebab ia sering membuat kita hidup tanpa nyawa, meski nyawa sesungguhnya masih melekat di badan. Kematian-kematian kecil tersebut mampu meruntuhkan stamina, spirit dan semangat hidup. Penyakit yang berkepanjangan pun, apalagi bila disertai rasa sakit yang sangat, akan dirasakan juga sebagai ,sebuah kematian.

Ada sebuah kepastian di dunia ini selain datangnya kematian, yaitu bahwa Allah Maha Rahman Maha Rahim tidak akan menghukum hambaNya melainkan karena perbuatannya lah yang menjadikannya terhukum, tidak ada yang menjadikan manusia susah kecuali karena dirinyalah yang membuat susah. Hanya kebanyakan tidak menyadarinya dan mencari sebab kesusahan dari luar dirinya. Manusia tidak akan bisa lari dari perbuatannya, rumusnya sederhana, perbuatan baik akan digelari kebaikan, dan perbuatan buruk akan dipentaskan keburukan. Ibarat emas yang digadaikan, perbuatan manusia pun digantung dengan tingkah lakunya.

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ، إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ
Segala diri tergadai dengan apa yang telah diperbuatnya (almudatsir:38).

Ibarat mengganggu anjing,kita akan dikejar tiada henti hingga kita terhenti berdiam diri, terkejar atau sang anjing sendiri yang berhenti mengejar. Begitupula perbuatan dosa, ia akan mengejar kemanapun kita berlari, pengejarannya bisa berupa kesusahan, kesulitan hidup, kelelahan dalam mengejar rizki, kehilangan keberkahan atau kegelisahan hingga kematian mengistirahatkan sejenak pengejaran dosa sebelum berrlanjut kembali di akherat kelak.

Jangankan di akherat nanti, kesulitan hidup di dunia ini saja sudah membuat kita menangis, berputus asa, bingung, apalah nanti keadaan kita di akherat?

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلَاءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ
Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.
(azzumar: 51)

Ibarat dikejar anjing yang juga bisa dihentikan oleh pemiliknya, pengejaran akibat buruk perbuatan pun bisa dihentikan oleh Yang Maha Menghentikan, bahkan sejak di dunia ini, yaitu dengan mengikrarkan pertobatan dan menghentikan langkah kemaksiatan.

Tapi… apa yang disebut dengan kematian kecil di atas adalah sesuatu yang masih bisa diubah, bila kita kembalikan lagi energi dan menumbuhkan harapan-harapan baru. Siapapun Anda yang mengalami kematian-kematian kecil, baik lantaran kesengajaan maupun di luar kontrol kita sebagai manusia, malah hendaknya bersyukur. Sebab kita bisa belajar banyak. Yang tidak bisa diubah itu adalah “ketika kematian yang sesungguhnya”, datang. Yakni kematian yang menjadikan kita berubah status, dari manusia hidup… menjadi mayat!

Sebelum semuanya menjadi terlambat, mari kita luruskan sisa kehidupan kita semua dan kita rajut sisa umur dalam kebaikan. Hanya dengan cara ini, kematian akan menyapa kita dengan membawa serta rahmat dari Allah. Jika kita masih berjalan di titiannya setan dan hawa nafsu, saya kira kita semua sudah mafhum apa akibatnya. Ya, rasanya tinggal menumbuhkan kesadaran dan kemauan yang kuat untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan diri sebelum kematian datang.