Tentang Qurban

maknaqurban

Berqurban Menurut Sunnah Nabi

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang memiliki kelapangan, sedangkan ia tidak berkurban, janganlah dekat-dekat tempat sholat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Beberapa ulama menyatakan bahwa berkurban itu lebih utama daripada sedekah yang nilainya sepadan. Bahkan lebih utama daripada membeli daging yang seharga atau bahkan yang lebih mahal dari harga binatang kurban tersebut kemudian daging tersebut disedekahkan. Sebab, tujuan yang terpenting dari berkurban itu adalah taqarrub kepada Allah melalui penyembelihan. (Asy Syarhul Mumti’ 7/521 dan Tuhfatul Maulud hal. 65)

Hukum Berkurban

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban, ada yang berpendapat wajib dan ada pula yang berpendapat sunnah mu’akkadah. Namun mereka sepakat bahwa amalan mulia ini memang disyariatkan. (Hasyiyah Asy Syarhul Mumti’ 7/519). Sehingga tak sepantasnya bagi seorang muslim yang mampu untuk meninggalkannya, karena amalan ini banyak mengandung unsur penghambaan diri kepada Allah, taqarrub, syiar kemuliaan Islam dan manfaat besar lainnya.

Terusin Bacanya ya

Saudara Rasulullah

Hai orang yang mendakwa cinta Rasulullah saw, sejauh mana kamu mengamalkan sunnahnyaSuatu ketika berkumpullah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian terucap dari mulut baginda yang sangat mulia: “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku).”

Suasana di majelis itu hening sejenak. Semua yang hadir diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi sayidina Abu Bakar, itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihinya melontarkan pengakuan demikian.

Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mulai memenuhi pikiran.

Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Rasulullah bernada rendah.

Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersabda, Baca lebih lanjut

Posisi Mulia

dosa

Sahabat yang dirahmati Allah SWT, ada banyak hal yang kita inginkan di dunia ini maupun di akherat kelak, ada yang menginginkan kehidupan yang membahagiakan dirinya dan keluarganya, dengan harta, mobil yang mewah, rumah besar dengan taman-taman yang indah, ada juga yang berharap jabatan yang tinggi, agar kemanapun ia melangkah, semua orang menghormati jabatannya, ada juga yang membanggakan kelebihan dirinya, ketampanan maupun kecantikannya, sehingga mati-matian menjaganya,atau bahkan merubahnya, mengeluarkan banyak materi untuk satu hal ini, hingga dia bangga ketika dia merasa tak ada seorangpun yang menandinginya.

Dari banyak hal tersebut, sejatinya yang sebenarnya dituju adalah sebuah posisi yang mulia, sebuah posisi yang menjadikan dirinya dimuliakan, dihormati dan disegani oleh oranglain. Dan sejatinya, hal yang seharusnya menjadikan diri kita mulia bukanlah topengnya, namun, sesuatu di dalam topeng tersebut, bukanlah jabatannya, namun orang yang menduduki jabatan tersebut, bukanlah harta dan rumahnya, namun orang-orang yang berada di dalamnya, bukan juga kecantikan ataupun ketampanannya, namun jiwa dari wajah yang telah diberikan Allah SWT kepadanya.

dilanjutin ya

Naungan Allah 7; Berdzikir Menangis Karena Allah

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: … Dan seorang lelaki yang berdzikir/mengingat Allāh dalam keadaan sendirian lalu mengalirlah air matanya.…”

Jamaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’alaa, Dia memerintahkan kita hamba-hambaNya dalam banyak ayatNya untuk selalu berdzikir kepadaNya, berfikir betapa hebatnya penciptaanNya di bumi dan di langit, mengingat keagunganNya, dan mengingat betapa rendahnya diri kita di hadapanNya, betapa tak ada apa-apanya diri kita dibandingkan keagunganNya.

Berdzikir kepadaNya menjadikan hati kita hidup, jiwa kita bersemangat, bersemangat untuk melakukan hal terbaik dalam hidup, melakukan hal bermanfaat untuk diri kita dan untuk keluarga, juga orang banyak, tak tersebit sedikitpun untuk melakukan hal tercela, karena dzikir tersebut akan selalu mengingatkan kita, kemana kita menuju dalam hidup ini, dan kemana kita akan kembali, dzikir juga akan menjadikan diri kita memiliki visi misi yang jelas dan baik, tidak asal jalan, tidak asal berbuat.

Dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah saw bersabda : “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dengan orang yang sudah mati” (HR. Bukhari).

lanjut dibaca

Naungan Allah 6; Bersedekah sembunyi-sembunyi

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: Seorang lelaki yang bersedekah seraya dia sembunyikan sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya…

Jamaah yang dirahmati Allah SWT, hadits diatas bukanlah melarang seseorang untuk sedekah terang-terangan, bersedekah terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi, keduanya adalah hal yg mulia, selama tidak ada niat untuk riya didalamnya, bahkan bersedekah secara terang-terangan apabila dengan niat agar orang lain di sekitarnya mengikuti langkahnya untuk menuju ridha Allah, insya Allah pahala yang di dapat akan lebih besar, ketika orang lain mulai mengikuti. Bagi orang-orang yang benar-benar memurnikan niatnya karena Allah, sejatinya tidak berbeda, sedekah sembunyi ataupun terang-terangan. Orang-orang yang hanya ingin berharap balasan dari Allah, ada dan tidaknya oranglain, tidak ada bedanya, karena urusan ibadah dia kepada Allah bukanlah urusan manusia, hanya dia dan Allah, dan hanya ridha Allah yang ia tuju. lanjut

Naungan Allah 5; Menghindari Godaan Karena Allah

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: … Seorang laki-laki yang di goda oleh wanita yang berpangkat dan cantik, lalu ia berkata :‘Sungguh aku takut kepada Allah’ …”

“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Rabbmu Maha melihat. ” (Al-Furqan: 20)

Jamaah yang dirahmati Allah SWT, hadits diatas menunjukkan keutamaan menjaga kehormatan dan meninggalkan perkara yang diharamkan, karena rasa takut kepada Allāh, bukan karena tidak ada kesempatan atau sedang tidak berselera. Baca lebih lanjut

Naungan Allah 4; Mencintai karena Allah

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dua orang yang saling mencintai karena Allāh; mereka bertemu dan berpisah karena-Nya. …”

Berbicara tentang cinta, adalah berbicara tentang rasa suka, bahagia dan kerinduan juga pengharapan, sejatinya cinta bersifat menguatkan, bukan melemahkan, ia menyuburkan, bukan menghancurkan, ia menyembuhkan, bukan menyakiti, sehingga cinta haruslah membuat sang pencinta menjadi orang yang lebih bahagia, bersemangat dan produktif.

Menyukai seseorang adalah fitrah dari Allah. Bersyukurlah orang yang telah diberikan rasa cinta. Namun, kadang seringkali perasaan kita dibutakan. Kita lupa kepada siapa, hati , jiwa ini akan kembali. Dan kepada siapa kita harus mencinta, Hanya kepada Yang Maha Kuasalah sepenuhnya kita berikan. Baca lebih lanjut

Naungan Allah 3; Mencintai Masjid

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid…”

Said bin Al Mussayib meriwayatkan, “Siapapun yang sedang duduk di dalam rumah Allah SWT, ia sedang duduk bersama Allah. Ia seharusnya hanya melibatkan dirinya dalam kebaikan dan pembicaraan yang baik.” (Qurtubi)

Masjid berasal dari kata “sajada” yang berarti tempat sujud, maka sejatinya, setiap seseorang memasuki masjid, hendaklah dia berniat bersujud kepada Allah, aktivitas ibadah, keilmuan, sosial dan hal apapun, maka hendaklah dengan tujuan sujud dan tunduk kepada Allah SWT. Maka mencintai masjid, sejatinya adalah mencintai Allah SWT dan RasulNya, karena semakin seseorang mendekatkan diri dengan masjid, maka dia semakin dekat dengan Allah, semakin hati seseorang terpaut dengan masjid, maka hatinya akan selalu terpaut dengan Allah. Baca lebih lanjut

Naungan Allah 2: Pemuda Yang Tumbuh Dalam Ibadah

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”

Jamaah yang dirahmati Allah, dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW bersabda, bahwa ada dua nikmat yang seringkali dilupakan oleh kita sebagai manusia, yakni kesehatan dan waktu luang, ya, kesehatan seringkali kita lupakan, kesehatan layaknya sebuah mahkota indah yang yang seringkali tidak dilihat, kecuali oleh orang-orang yang sedang sakit. Begitu jua waktu luang, seringkali kita lupakan, dan baru tersadar ketika waktu kita sudah tak lagi banyak, termasuk waktu dimana kita masih muda, ada banyak sekali hal baik yang seringkali terlupakan ketika masih muda. Baca lebih lanjut

Naungan Allah

Sahabat yang dirahmati Allah, kita mungkin pernah mendengar ketika masih kecil dulu ustadz kita bicara, bahwa ketika di akherat nanti, setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan naungan dari Allah SWT, karena matahari berada tepat diatas kita, neraka dan surga di hadapan kita. Rasulullah SAW dalam sabdanya menerangkan, setidaknya ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah SWT, pada hari tidak ada lagi naungan. Baca lebih lanjut